KETUGUHAN HATI
Bagi sebagian orang, kekuasaan adalah segalanya. Namun bagi pria ini, jabatan tinggi di bawah bendera penjajah adalah sebuah penghinaan terhadap harga diri bangsanya. Di saat ia ditawari posisi empuk untuk memisahkan tanah kelahirannya dari pangkuan ibu pertiwi, ia justru memilih jalan terjal, penuh risiko, dan pengasingan demi sebuah janji setia pada Indonesia.
Pada Konferensi Malino tahun 1946, Belanda mencoba merayu Frans Kaisiepo untuk menjadi wakil "Negara Indonesia Timur". Dengan berani, ia menolak dan justru menegaskan bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Republik Indonesia.
Dialah sosok yang mempopulerkan nama IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Nederland). Nama ini bukan sekadar identitas, melainkan kode perlawanan diplomatik terhadap pendudukan Belanda di tanah Papua.
Saat bendera Merah Putih dilarang berkibar, Frans secara sembunyi-sembunyi mengoordinasikan gerakan rakyat di Biak untuk tetap setia pada proklamasi 17 Agustus 1945, meski nyawa menjadi taruhannya.
Akibat sikap keras kepalanya membela NKRI, Belanda menjebloskannya ke penjara dan mengasingkannya ke tempat-tempat terpencil. Namun, jeruji besi tidak pernah bisa memadamkan api nasionalismenya.
Setelah Papua kembali ke pangkuan Indonesia, ia menjabat sebagai Gubernur. Namun, ia tetap hidup sederhana dan dikenal sebagai pemimpin yang paling dekat dengan rakyatnya, tanpa sedikit pun mencari kemewahan dari jabatannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar